ROTE NDAO | KOMPAS.SBS – Perbedaan bukan alasan untuk memecah belah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi. Pesan inilah yang disampaikan dalam ibadah Bulan Keluarga Henuk–Henulae di Jemaat Petra Wadera, Kabupaten Rote Ndao, Sabtu (31/10/2026).
Melalui khotbah berdasarkan 1 Korintus 12:12–31, Pendeta Marlin Resianti Lolo, S.Th., mengajak keluarga besar Henuk–Henulae memperkuat persatuan, menjaga kasih persaudaraan, dan saling menopang dalam kehidupan keluarga.
Ia menegaskan, keluarga bukan hanya dipersatukan oleh hubungan darah dan kesamaan marga, tetapi juga oleh kasih, kepedulian, serta tuntunan Roh Kudus.
Menurutnya, setiap anggota keluarga memiliki sifat, kemampuan, dan peran yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan, bukan menjadi sumber pertengkaran atau perpecahan.
Untuk menggambarkan pentingnya persatuan, Pendeta Marlin mengibaratkan keluarga seperti anggota tubuh yang memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membutuhkan.
Ia juga menggunakan ilustrasi sapu lidi. Satu lidi sulit digunakan untuk membersihkan halaman, tetapi ketika banyak lidi disatukan, pekerjaan menjadi lebih mudah dan efektif.
“Tidak ada anggota keluarga yang tidak penting. Setiap orang memiliki kemampuan dan peran masing-masing untuk mendukung kepentingan bersama,” demikian pesan yang ditekankan dalam khotbah tersebut.
Ia mengingatkan agar setiap anggota keluarga tidak merasa rendah diri atau menjauh hanya karena menganggap tugas dan kontribusinya kecil.
Sebaliknya, setiap orang perlu menyadari bahwa keberadaan mereka memiliki arti bagi keluarga. Kebersamaan akan semakin kuat ketika setiap anggota keluarga saling menghargai dan menerima kelebihan maupun kekurangan satu sama lain.
Selain persatuan, Pendeta Marlin juga menekankan pentingnya kepedulian terhadap anggota keluarga yang sedang menghadapi kesulitan.
Ia menyebut janda, duda, anak yatim piatu, keluarga yang mengalami gagal panen, serta orang tua yang sedang sakit sebagai bagian dari keluarga yang perlu mendapatkan perhatian dan dukungan.
Menurutnya, kepedulian tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Bentuk kepedulian itu dapat dilakukan dengan memberikan bantuan, mengunjungi anggota keluarga yang sakit, serta mendampingi mereka yang membutuhkan dukungan.
Ketika satu anggota keluarga mengalami penderitaan, anggota keluarga lainnya diharapkan ikut merasakan dan membantu meringankan beban tersebut.
Dengan demikian, keluarga tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk memperoleh kekuatan, penghiburan, dan pertolongan ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pesan berikutnya yang disampaikan dalam khotbah ialah pentingnya setiap anggota keluarga menjadi berkat bagi sesama.
Pendeta Marlin mengajak keluarga besar Henuk–Henulae menggunakan kemampuan dan talenta masing-masing untuk melayani, menolong, serta mendukung anggota keluarga lainnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat dalam keluarga merupakan hal yang wajar. Namun, setiap persoalan harus diselesaikan melalui komunikasi yang baik, sikap saling menghargai, dan musyawarah.
Menurutnya, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan keluarga yang mampu menyelesaikan persoalan tanpa kehilangan kasih dan persaudaraan.
Dalam kesempatan tersebut, Pendeta Marlin juga menjelaskan bahwa Bulan Keluarga yang diperingati setiap Oktober menjadi momentum bagi keluarga Kristen untuk memperkuat komitmen rumah tangga.
Ia menilai kehidupan keluarga Kristen saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan ekonomi, perselingkuhan, hingga berbagai masalah lainnya yang dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Karena itu, pasangan suami istri perlu kembali mengingat janji pernikahan dan komitmen untuk hidup bersama hingga maut memisahkan.
Ia mengingatkan agar kehidupan rumah tangga tidak hanya dijalani bersama, tetapi juga dibangun melalui sikap saling menghargai, menopang, dan melengkapi.
Selain ibadah di gereja, ibadah marga juga menjadi bagian penting dalam perayaan Bulan Keluarga. Melalui ibadah tersebut, generasi muda dapat mengenal sejarah marga, memahami hubungan kekerabatan, serta mempererat tali persaudaraan.
Di Jemaat Petra Wadera, terdapat 41 marga. Ibadah marga Henuk–Henulae menjadi salah satu momentum untuk memperkuat persekutuan keluarga dan menanamkan nilai-nilai iman kepada generasi penerus.
Melalui ibadah Bulan Keluarga ini, keluarga besar Henuk–Henulae diharapkan semakin memperkuat iman kepada Tuhan, menjaga persatuan dalam perbedaan, serta membangun kepedulian yang dimulai dari lingkungan keluarga sendiri.
Pesan utama yang disampaikan menegaskan bahwa perbedaan bukan untuk memecah belah, melainkan untuk menyatukan. Dengan kasih, kepedulian, dan tanggung jawab bersama, keluarga dapat menjadi sumber kekuatan dan berkat bagi sesama.
