Kompas.red||SURABAYA — Dugaan pemaksaan peserta didik TK Seroja untuk mengikuti perlombaan di luar kegiatan pembelajaran kembali memunculkan pertanyaan serius tentang arah pendidikan anak usia dini dan pengawasan Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
Jika benar anak-anak diwajibkan mengikuti perlombaan yang tidak selaras dengan ketentuan atau arahan pendidikan, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. Pendidikan TK semestinya mengutamakan tumbuh kembang anak, pembelajaran yang sesuai usia, serta kegiatan yang mendidik—bukan tekanan untuk mengejar prestasi atau mengikuti agenda tertentu.
Publik pun berhak bertanya: apakah kegiatan perlombaan tersebut bersifat sukarela, atau justru ada unsur pemaksaan terhadap anak maupun orang tua? Apa dasar penyelenggaraannya, siapa yang menetapkan, dan apakah kegiatan itu telah dievaluasi oleh pengawas pendidikan?
Sorotan juga mengarah kepada Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Jika laporan dan keluhan terkait TK Seroja telah diterima, masyarakat membutuhkan penjelasan terbuka: apakah pemeriksaan sudah dilakukan secara menyeluruh, termasuk mencocokkan data pengurus yayasan, kepala sekolah, guru, serta kegiatan belajar dengan dokumen resmi dan kondisi nyata di lapangan?
Jangan sampai pengawasan hanya berhenti pada pemeriksaan administratif atau sekadar menerima keterangan sepihak. Dinas Pendidikan perlu menjelaskan hasil verifikasi, menindaklanjuti setiap temuan yang terbukti, dan memastikan hak anak untuk memperoleh pembelajaran yang aman serta sesuai tahap perkembangannya tetap menjadi prioritas.
Kepala Dinas Pendidikan Surabaya dituntut memberi jawaban yang jelas, bukan membiarkan pertanyaan publik menggantung. Apabila dugaan pelanggaran terbukti, tindakan harus dilakukan sesuai aturan. Namun, jika tudingan tidak benar, pihak sekolah dan dinas juga perlu menyampaikan klarifikasi berdasarkan dokumen dan fakta.
Hingga berita ini disusun, dugaan tersebut masih perlu diverifikasi. TK Seroja, pengurus yayasan, kepala sekolah, dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya berhak memberikan tanggapan. Redaksi membuka ruang hak jawab agar persoalan ini diuji secara berimbang, terang, dan bertanggung jawab.
(Bersambung)

